KOLANO UCI SABEA (SEBUAH FENOMENA RITUAL ADAT BENTUK RELIGIUS DI KESLUTANAN TERNATE)


Oleh :
Supriyanto R Senen
Mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta
“Gudu moju si to suba
Ri Jou si to nunako”
Artinya:
“Dari jauh telah ku sembah
Tuhan ku, aku kenal”
(Sastra Lisan Ternate, dolobololo)

INDONESIA kaya akan berbagai macam ragam kebudayaan, tradisi serta adat istiadat di setiap daerah. Adat atau tradisi ialah sebuah  kehidupan yang sudah terpola terus menerus sehingga menjadi prinsip hidup dalam bermasyarakat. dari prinsip hidup itulah melahirkan sebuah prinsip falsafah hidup yang telah di sepakati kebenarannya, ada nilai yang mengatur hubungan diantara manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan alam semesta dan  manusia dengan Tuhan. Oleh karenanya adat serta budaya merupakan hasil kreasi manusia ( Kuwtowijoyo, Budaya dan Masyarakat).
Di Ternate ada sebuah fenomena ritual adat yang perspektifnya dipersandingkan dengan Agama Adat Matoto Agama Matoto Kitabbullah Matoto Jou Allah Ta’Ala (Adat bersandikan agama, Agama bersandikan Al-quran, serta Allah SWT) baca Filsafat Jou Se NgofaNgare (falsafah hidup orang Ternate) ini yang sering masyarakat jumpai pada  hari – hari besar Islam diantaranya, di malam ke enam belas Ramadhan (malam Qunut), Malam Lailatulkadar, Idul Fitri, serta Idul Adha.  Fenomena itu ialah Kolano Uci Sabea (Sultan turun sembahyang). Ritual ini telah di lakukan beratus-ratus abad semenjak Kesultanan didirikan. Dalam ritual ini, Sultan akan di tandu dari kadaton kesultanan Ternate menuju Mesjid besar kesultanan Ternate (Sigi Lamo). Dalam perjalanan Sultan dari kadatong menuju Sigi Lamo, Sultan diringi musik tatabuang  seperti bubunyian gamelan dan di dampingi dua belas anak di depannya yang membawa kebasaran Kolano. Secara filosofis, dua belas yang ikut mendampingi Kolano Uci Sabea ini menandakan perhitungan  dua belas bulan dalam satu tahun. Sebelum sholat di laksanakan didalam Sigi Lamo muadjin yang berjumlah empat orang melakukan Adzan secara bersamaan, empat orang muadjin  ini melambangkan empat Kesultanan yang berada di Moloku Kie Raha, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Ritual ini sangat berbeda dengan kesultanan lainnya yang berda di Nusantara. Biasanya, tiga atau empat hari sebelum pelaksanaan Kolano Uci Sabea, semua perangkat dan segala kebutuhan yang dibutuhkan pada prosesi ini sudah dipersiapkan secara matang oleh Badan Rumah Tangga Istana yakni Sadaha Kadato yang dipimpin oleh seorang Sowohi (pembantu rumah tangga sultan) yang juga sholat di Mesjid Kesultanan Ternate termasuk masyarakat di pulau Hiri dan pesisir Jailolo. Memastikan petugas yang melaksanakan tabuh gamelan dan gong untuk mengiringi perjalanan rombongan menuju mesjid.dibantu oleh Morinyo (Ajudan Sultan) dan Alfiris (Satgas). persiapan yang  dilakukan berupa  koordinasi dengan para Mahimo (Kepala Kampung) untuk mengumumkan bahwa Sang Sultan saat ini berada di kadatong dan akan melaksanakan ritual Kolano uci  sabea.
Setelah melaksanakan sholat di Mesjid Sultan, Sultan kembali ke Istana Kesultanan dan di ikuti oleh seluruh masyarakat adat Kesultanan Ternate. Sesampainya di Istana tepatnya di Balakun (foris depan istana kesultanan) biasanya, masyarakat adat telah bersiap didapan istana sembari memberikan penghormatan kepada Sultan seraya memanjatkan Doa kepada Maha Kuasa, agar mendapatkan kerberkahan dan keselamatan dunia maupun akhirat, dengan teriakan Suba Jou (Sembah Tuhan). Bahasa Suba Jou, secara termenalogi pada dasarnya merupakan konsep ke-Tuhan-an yang dipakai oleh para leluhur, mereka selalu melibatkan Tuhan disegala aktivitas yang di lakukan dialam semesta. Sehingga terwarisi secara turun temurun hingga saat ini.  
Namum kali ini telah memasuki tahun kedua di mana, situasi sigi lamo dan Kadatong tak lagi dimeriahkan dengan prosesi ritul adat Kolano Uci Sabea, tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena tepatnya pada tanggal 19 Februari 2015, Sang Sultan ke – 48 yang mulia Sri Sultan Mudaffar Syah menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, sehingga ritual Kolano Uci Sabea untuk sementara belum diadakan menunggu sampai ada pengganti untuk kembali bertahta di singgasana kursi ke-Kolano-an.
Tulisan ini merupakan berangkat dari bentuk kerinduan oleh penulis akan ritual-ritual adat seperti ini. Sebab rindu ialah makam terakhir daripada cinta. Ini merupakan artefak kebudayaan yang harus terjaga dan terus dilestarikan. Semoga perangkat adat Kesultanan Ternate secepatnya mendapatkan figur Sang Sultan berikutnya yang amanah, serta selalu mengutamakan kemaslahatan rakyat. Agar ritual adat seperti ini dapat kita temui di tahun berikutnya.
To sayang se dudara, Tede-tede si saha-saha, Doka manuru marau parada, Se saya      gambir ma bou pangoro (Aku sayang dan cinta, Sanjung-sanjung berserah, Seperti manuru berdaun indah, dan gambir berbau menyerbak). Sukur dofu-dofu. Suba Jou. (**)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »