Legu Gam Moluku Kie Raha (Bukan Sekedar Pasar Malam)

Oleh : Supriyanto R Senen
Pegiat Yayasan Buku Bendera
LEGU GAM, secara terminologi, Legu dalam bahasa Ternate berarti pesta dan Gam berarti kampung, maka pengartian secara luas Legu Gam ialah pesta rakyat. Legu gam merupakan sebuah festival kebudayaan yang tersohor di Maluku Utara, festival ini telah mulai sejak dari tahun 2002 dan menjadi festival kebudayaan tertua di Maluku Utara, Legu Gam di prakarsai oleh Sultan ke-48 Alm Al Haji Mudaffar Sjah BcHk, pelaksanaannya bertepatan dengan hari kelahiran beliau pada tanggal 13 April. Selain memperingati hari lahirnya Sultan Ternate, Legu Gam juga sebagai wujud pelestarian kebudayaan dan menggambarkan hubungan emosional yang baik antara Sultan dan rakyatnya. Seiring berjalannya waktu, Legu Gam menjadi sarana ekonomi bagi masyarakat pelaku ekonomi, masyarakat sangat antusias dengan legu Gam serta terlibat dalam pelbagai kesiapan hal teknis dari kepanitiaan festival legu gam tersebut.

       Selain perayaan hari lahir Sultan Ternate, Legu Gam juga sebagai media pengenalan kebudayaan, namun pada tahun 2010 Legu Gam kehilangan spirit secara kebudayaan, sehingga Legu Gam hanya di padang sekedar pasar malam dan pameran kota belaka, Legu Gam yang seharusnya memiliki spirit kebudayaan, akan tetapi spirit tersebut hanyalah narasi belaka, sehingga yang terlihat dari Legu Gam tak jauh berbeda dengan hiburan malam sehingga masyarakat hanya terpusat pada hiburan, permainan dan jualan yang ada di sekitar lokasi. Ironisnya lagi bahkan pangggung Legu Gam di jadikan panggung politik sebagai legitimasi dalam mencapai tujuan secara priadi, dengan alih-alih, siapa yang menjadi ketua Legu Gam dia yang akan menjadi wakil wali kota. Sehingga muatan politis sangat kental dalam lokus Legu Gam, fenomena politik dengan bungkusan Legu Gam terlihat sampai pada Legu Gam di tahun 2015.
     
Struktural Fungsional
       Festival Legu Gam sudah menjadi kebudayaan Kesultanan Ternate untuk rakyat Moloku Kie Raha. Festival Legu Gam juga merupakan sebuah tongkat pangkal unsur dalam kebudayaan dan dari tongkat pangkal unsur tersebut memiliki beberapa sub sistem didalamnya. Sub sistem tersebut terdiri dari  agama, kesenian, pendidikan, ekonomi kreatif dan pemerintah. Dari sub sistem tersebut juga ada sub-sub sistem didalamnya yaitu terjadinya komunikasi, interaksi antar individu-individu. Seperti pendapat Koentjaraningrat “budaya itu tumbuh dari hasil interaksi individu terhadap individu yang lain. Yang kemudian kebudayaan itu terjadi dan tumbuh di dalam sistem kehidupan karena di dalam interaksi tersebut terdapat status dan memiliki peran yang memiliki struktur di dalamnya atau biasa disebut struktur sosial” (Hanselin: 2006).
       Festival Legu Gam menjadi fungsional dan memiliki banyak fungsi dan sesuai dengan teori Merthon (Fungsionalis strukturalis) berkaitan dengan situasi politik, ekonomi dan budaya dimana konteks teori sosial itu berada ditengah masyarakat. Merton berargumen bahwa fokus dari fungsionalis struktural harus diarahkan pada fungsi-fungsi sosial, yang menurut Merton, fungsi didefinisikan sebagai “konsekuensi-konsekuensi yang disadari dan yang menciptakan adaptasi atau penyesuaian sistem sosial (1949/1968: 105)”. Akan tetapi terdapat bias ideologi jika orang hanya memusatkan perhatiannya pada adaptasi atau penyesuaian, karena adanya konsekuensi positif, dan perlu kita ketahui bahwa fakta sosial dapat mengandung konsekuensi negatif bagi fakta sosial lain dikarenakan festival Legu Gam adalah kegiatan terpola dan terulang di setiap tahun juga memusatkan perhatian ke kelompok masyarakat dan sesuai kultur yaitu nilai Islami.Festival Legu Gam merupakan Festival Sruktural Fungsional dengan memiliki beberapa fungsi yang telah terstruktur. Pemanfaatan Festival Legu Gam dapat diperoleh masyarakat dengan adanya fungsi, diantaranya : Festival Legu Gam memiliki fungsi dalam Religius, Kesenian, Pendidikan, dalam Ekonomi Kreatif, dan festival Legu Gam memiliki fungsi PAD, karena kesultanan merupakan mitra pemerintah daerah.
Bukan Sekadar Pasar Malam
       Pada tahun 2018, Legu Gam yang di ketuai oleh Jou Ngofa (Anak Sultan) Firman Mudaffar Sjah SE, sukses serta berhasil menepis stigma buruk dari Legu Gam Moloku Kie Raha, bahkan Legu Gam yang di adakan tahun 2018 tanpa ada bantuan baik pemerintah daerah maupun pusat. Padahal pemerintah daerah merupakan mitra dari Legu Gam Moloku Kie Raha. Walaupun tanpa bantuan dari pemerintah daerah, Legu Gam yang di nahkodai oleh Jou Ngofa Firman Sjah SE berjalan sesuai terget. Dan yang harus diapresiasi ialah kepanitiaan legu Gam 2018 mampu mengaktifkan kembali esensi serta subtansi dari nilai-nilai adat se atoran dan mampu menarik tamu luar yang ikutsertakan dalam memeriahkan festival legu gam dari Raja-Raja se Nusantara sampai tamu manca negara juga kerabat Kesultanan Ternate dari Negara Belanda. Fungsi Legu Gam sebagai festival kebudayaan Moloku Kie Raha yang sudah di jelaskan oleh penulis di atas baik itu fungsi sebagai Religius, kesenian, pendidikan, ekonomi kreatif, mampu dicapai oleh Legu Gam 2018, sehingga mendapat dudukan serta antusias masyarakat adat Kesultanan Ternate. Sehingga stigma buruk terkait dengan legu gam yang tak jauh berbeda dengan pasar malam dan dijadikan sebagai perebutan panggung secara politik dapat di bendung oleh panitia Legu Gam 2018 yang berlokasi di sunyie lamo. 

       Panitia pada tahun 2018 memiliki tantangan sangat besar. Fenomena ganda yang tak biasanya terlihat pada Legu Gam di tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2018 fenomena ganda Legu Gam menuai pertanyaan besar bagi masyarakat, Legu Gam versi Abdullah Tahir (Wakil Wali Kota Ternate) yang diadakan di Benteng Oranje dan Legu Gam yang berlokasi di sunyie lamo (lapangan salero). Seharusnya Abdullah Tahir selaku pemerintah menjadi mitra Legu Gam bukan melaksanakan Legu Gam tandingan. Dengan adanya dualisme Legu Gam ini kemudian menarik perhatian khusus dari Kementerian Pariwisata Bidang Ekonomi Kreatif, sehingga Legu Gam yang sebelumnya merupakan event nasional yang sudah terjadwal dalam kalender nasional Kemenpar dicabut dari kalender nasional. Namun yang diketahui masyarakat Legu Gam saat pertama di adakan sampai saat ini yaitu Legu Gam yang berlokasi di lapangan sunyie lamo (lapangan salero), bukan yang berlokasi di Benteng Oranje atau tempat lainnya.

       Tahun 2019, Legu Gam di rencanakan akan diadakan pada bulan Maret. Kali ini Legu Gam akan diketuai Jou Ngofa Hidayat Mudaffar Sjah, yang juga merupakan saudara dari ketua umum Legu Gam 2018 Jou Ngofa Firman Mudaffar Sjah. Inisiatif pergantian Ketua Umum merupakan kesepakatan dari kakak beradik, Firman Mudaffar Sjah dan Hidayat Mudaffar Sjah serta disaksikan oleh perangkat adat Kesultanan Ternate di pendopo Kesultanan Ternate. Pergantian ketua umum agar Legu Gam bisa terhindar dari tuhduhan politis dari masyarakat. Legu Gam 2019 yang diketuai oleh Hidayat Mudaffar Sjah dengan tema “Ternate Mercusuar Indonesia, Indonesia Mercusuar Dunia” diharapkan mampu menghadirkan ide serta gagasan yang membangun Ternate dan Maluku Utara, baik dari sektor Kebudayaan, pariwisata, serta ekonomi yang lebih baik kedepannya. Dan Legu Gam 2019 kembali masuk dalam event kalender nasional. Haparan penulis, Legu Gam juga bisa menjadi laboratorium kebudayaan “adat se atoran” bagi generasi melenial saat ini, sehingga nilainya dapat terejawantahkan dalam aktivitas kehidupan baik secara sosial maupun individual. Semoga Legu Gam Moloku Kie Raha 2019, berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat Ternate dan Maluku Utara. Sukur dofu-dofu. Suba Jou.(*)
NB: tulisan ini pernah tebit di Malut Post edisi 26 februari 2019

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »